Namaku selalu dikaitkan dengan satu hal: film. Bagi orang lain, itu hanya hiburan. Tapi bagiku, film adalah segalanya. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam membicarakan adegan, sutradara, hingga detail kecil yang mungkin tidak disadari orang lain. Di kepalaku, dunia nyata sering kalah menarik dibanding dunia di layar.
Aku bekerja di sebuah toko rental film, tempat di mana aku merasa paling “hidup”. Rak-rak penuh kaset dan DVD seperti harta karun yang tidak ada habisnya. Setiap hari, aku bertemu orang-orang yang datang dan pergi, tapi tidak banyak yang benar-benar mengerti kecintaanku terhadap film. Aku sering dianggap terlalu serius, terlalu aneh, atau bahkan terlalu egois dalam cara pandangku.
Aku punya mimpi besar: masuk ke dunia perfilman, menjadi seseorang yang karyanya bisa ditonton banyak orang. Tapi mimpi itu terasa jauh. Hidupku tidak semulus yang kubayangkan. Hubungan dengan orang-orang di sekitarku tidak selalu berjalan baik, terutama karena aku sering lebih fokus pada diriku sendiri daripada memahami mereka.
Ada satu orang yang perlahan mengubah cara pandangku. Seseorang yang tidak hanya melihatku sebagai “anak yang terobsesi film”, tapi sebagai manusia yang masih perlu belajar banyak hal. Dari situlah aku mulai menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang aku sukai, tapi juga tentang bagaimana aku berinteraksi dengan orang lain.
Hari-hariku mulai berubah. Aku masih mencintai film, tapi aku juga mulai memperhatikan hal-hal di sekitarku. Persahabatan, tanggung jawab, dan hubungan dengan orang lain menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi kuabaikan. Aku mulai melihat bahwa cerita terbaik bukan hanya yang ada di layar, tapi juga yang terjadi di kehidupan nyata.
Perjalanan ini tidak selalu mudah. Ada momen di mana aku harus menghadapi kenyataan pahit tentang diriku sendiri. Tentang bagaimana sikapku selama ini memengaruhi orang lain. Tentang bagaimana aku harus belajar untuk berubah, meskipun itu berarti keluar dari zona nyaman.
Namun, di situlah letak pertumbuhannya. Aku mulai memahami bahwa menjadi dewasa bukan berarti meninggalkan apa yang kita cintai, tapi belajar menyeimbangkannya dengan hal-hal lain dalam hidup. Film tetap menjadi bagian penting dariku, tapi bukan lagi satu-satunya hal yang mendefinisikan siapa aku.
I Like Movies bukan sekadar cerita tentang kecintaan pada film. Ini adalah perjalanan tentang menemukan diri sendiri, memahami orang lain, dan belajar bahwa hidup jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di layar.
🔥 Jangan lewatkan kisah penuh makna ini! Saksikan I Like Movies sekarang juga hanya di SULTAN88 dan temukan bagaimana sebuah obsesi bisa berubah menjadi perjalanan menuju kedewasaan yang sesungguhnya!
